Ibu Karyati, Pejuang Nafkah di Atas Sepeda Starling di Tengah Hiruk Pikuk Blok M

 Di tengah kesibukan kawasan blok m yang ta pernah sepi dari lalu lalalng kendaraan dan pejalan kaki, Ada sosok sederhana yang setiap hari berjuang mencari nafkah dengan cara yang tidak biasa, Ia adalah ibu Karyati, Seorang perempuan yang berusia 45 tahun yang dusah 12 tahun mengandalkan sepedanya sebagai alat utama yang berjualan. dengan sepeda tuanya, Ia mengais rezeki di depan ruko wisteria, Tpematnya mangkal setiap hari.

Foto : Nabila Najwalia R

Ibu karyati adalah seorang pedagang starling. sebutan untuk "Starbuck Keliling". Julukan akrab bagi para penjual kopi saset dan minuman instan yang berkeliling menggunakan sepeda. di sepedannya yang penuh dengan muatan,,, tergantung bergama produk seperti kopi, teh, air meneral, serta beberapaa makanan ringan seperti donat, nasi kuning, dan nasi uduk. semua barang itu ia jual kepada pegawai kantor dan pengunjung yan melintas di sekitar ruko.

perempuan asal tegal, Jawa Tengah ini merantau ke jakarta seorang diri, Tidak ada keluarga yang menemaninya di ibu kota. Setiap hari, Ia menjalani pekerjaan ini demi menghidupi anak dan keluarga yang tinggal di kampung halaman. "Saya disini sendirian, keluarga dan anak anak di kampung, Saya jualan untuk mereka, Buat kebutuhan di rumah," Ucapannya dengan senyum.

Rutinitas Ibu Karyati dimulai sejak pagi. Ia berangkat membawa sepedanya dari tempat kos menuju lokasi mangkal di depan ruko. Biasanya, ia sudah siap berjualan sebelum para pegawai datang ke kantor. Tempat itu kini sudah seperti rumah keduanya. Para karyawan di sekitar area ruko sudah mengenalnya dengan baik. Banyak dari mereka yang sudah menjadi pelanggan tetap. Hubungan mereka tak lagi sekadar penjual dan pembeli, tapi sudah seperti teman. “Kalau hari Senin sampai Jumat ramai, karena banyak pegawai. Tapi kalau Sabtu Minggu sepi, mereka libur,” katanya sambil tersenyum.


Foto : Nabila Najwalia R

Meskipun penghasilannya tidak besar, Ibu Karyati tetap mensyukuri apa yang ia dapatkan. Bagi dirinya, bisa terus bekerja dengan cara halal dan bisa mengirim uang untuk keluarga di kampung sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia tak pernah mengeluh.

Tantangan lain yang sering ia hadapi adalah sepinya pembeli saat akhir pekan dan ketika hujan turun. Namun, ia tidak pernah menyerah. Baginya, setiap hari adalah perjuangan baru. “Kalau sepi ya sabar, namanya juga usaha. Rezeki sudah ada yang ngatur,” ujarnya.

Foto yang diambil pada Jumat, 18 Oktober 2025 itu menggambarkan keseharian Ibu Karyati yang sederhana namun penuh semangat. Di tengah gedung-gedung tinggi dan kesibukan kota, sosoknya menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu ditandai dengan kemewahan, tetapi juga dengan ketekunan dan keikhlasan.

Kisah Ibu Karyati bukan hanya tentang seorang pedagang kecil di pinggir jalan. Lebih dari itu, ia adalah simbol keteguhan seorang ibu yang rela menempuh jarak jauh dan bekerja keras demi keluarganya. Dalam roda sepedanya, tersimpan harapan, doa, dan cinta yang tak pernah padam sebuah kisah nyata tentang kerja keras dan ketulusan yang hidup di tengah kesibukan kota besar.

Komentar